BLANTERORBITv101

Masjid Agung Palembang, Keindahan Masjid Dipusat Kota

Selasa, 01 Desember 2020

Calonsiswa.com


Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin atau yang lebih dikenal dengan Masjid Agung Palembang merupakan masjid terbesar di Palembang. Masjid ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin 1 atau Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikramo mulai tahun 1738 hingga 1748. Konon masjid ini merupakan masjid terbesar di nusantara saat itu. Masjid Agung Palembang dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. Peresmian masjid dilaksanakan pada tanggal 28 Jamadi Awal tahun 1151 H (26 Mei 1748). Ukuran pertama kali bangunan masjid awalnya dibangun seluas 1.080 meter persegi dengan kapasitas 1.200 jemaah. Ekspansi pertama dilakukan oleh wakaf Sayid Umar bin Muhammad Assegaf Altoha dan Sayyid Ahmad bin Syech Sahab yang dilaksanakan pada tahun 1897 di bawah pimpinan Mustafa mangala Karta Nataagama Pangeran Raden Ibn Kamaluddin.


Pada awal pembangunannya (1738-1748), sebagai masjid tua di Indonesia, Masjid Agung Palembang pada mulanya tidak memiliki menara. Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin (1758-1774) barulah dibangun menara yang letaknya agak terpisah di sebelah barat. Bentuk menara sebagai menara bangunan candi dengan bentuk atap timah melengkung. Pada bagian luar tubuh menara terdapat teras berpagar yang mengelilingi tubuh. Bentuk masjid yang kini dikenal dengan Masjid Agung, tidak jauh berbeda seperti yang kita lihat sekarang. Bentuknya saat ini telah mengalami perombakan dan ekspansi berkali-kali. Pada awalnya koreksi dilakukan oleh pemerintah Belanda setelah terjadi perang besar pada tahun 1819 dan 1821. Setelah dilakukan perbaikan dan penambahan / perluasan pada tahun 1893, 1916, 1950-an, 1970-an, dan terakhir pada tahun 1990-an. Dalam pekerjaan renovasi dan konstruksi tahun 1970 ' oleh Pertamina, membuat pembangunan menara sehingga mencapai bentuknya yang sekarang. Menara asli dengan atap ala Cina dirobohkan. Pemekaran kedua pada tahun 1930. dilakukan kembali pada tahun 1952 perluasan Yayasan Masjid pada tahun 1966-1969 dengan membangun tambahan lantai kedua untuk sebuah masjid yang sampai sekarang menjadi seluas 5.520 meter persegi dengan kapasitas 7750.

Masjid Agung Palembang adalah masjid tua dan sangat penting dalam sejarah Palembang. Masjid yang berusia sekitar 259 tahun ini terletak di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir I Barat, tepat di pertemuan antara Jalan Sudirman dan Jalan Merdeka, pusat kota Palembang. Tak jauh dari situ, ada Jembatan Ampera. Masjid dan jembatan tersebut hingga kini menjadi land mark kota tersebut. Secara historis, masjid yang berada di pusat Kerajaan tersebut menjadi pusat studi Islam yang melahirkan sejumlah ulama penting pada zamannya. Syekh Abdus Samad al-Palembani, Pack Fachruddin, dan Abdullah bin Syihabuddin adalah sebagian ulama yang berada di masjid dan memiliki peran penting dalam wacana dan praksis Islam.

Arsitektur Masjid Agung Palembang
Masjid Agung Palembang secara umum terbagi menjadi dua bangunan utama yaitu bangunan masjid asli dan bangunan masjid tambahan. Masjid aslinya berada di sebelah barat, masih dipertahankan keasliannya hingga sekarang. Sedangkan bangunan masjid tambahan terletak di sebelah timur dengan ukuran yang jauh lebih besar, megah dan modern.

Beberapa penulis menyebut arsitektur masjid ini sebagai perkawinan antara timur dan barat. Bentuk dasar bangunan masjid ini bercirikan Indonesia, dengan atap limas berjenjang tiga di atas 4 penyangga dengan sokuguru utama penyangga atap, ditambah 12 penyangga yang mengelilingi tiang utama. Sebagai masjid kuno masjid asli indonesia. Bentuk dasarnya tidak jauh berbeda dengan Masjid Agung Demak (1477) di Jawa.